JAKARTA, Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan (BPKOM) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyelenggarakan workshop teknis bertema Pengujian Endotoksin pada Produk Farmasi Parenteral pada Senin (24/11/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 199 peserta yang berasal dari unit-unit pengujian BPOM di seluruh Indonesia, baik secara daring maupun luring.
Workshop tersebut merupakan bagian dari upaya BPOM dalam memperkuat kompetensi sumber daya manusia laboratorium guna menjamin mutu, keamanan, dan keselamatan produk farmasi parenteral yang beredar di masyarakat. Produk parenteral merupakan sediaan steril yang diberikan langsung ke dalam tubuh, sehingga harus memenuhi persyaratan mutu yang sangat ketat, termasuk bebas dari cemaran endotoksin.
Kepala BPKOM dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengujian endotoksin merupakan salah satu parameter kritis dalam pengawasan mutu sediaan parenteral. Endotoksin bakteri, yang berasal dari komponen lipopolisakarida dinding sel bakteri Gram negatif, dapat menimbulkan reaksi serius pada pasien, mulai dari demam hingga syok sistemik. Oleh karena itu, kemampuan laboratorium dalam melakukan uji endotoksin secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi hal yang mutlak.
Workshop ini menghadirkan narasumber Prof. apt. Marlia Singgih Wibowo, Ph.D., Guru Besar Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung, yang membahas secara komprehensif prinsip dasar endotoksin, metode uji Limulus Amebocyte Lysate (LAL), penanganan sampel dan reagen, validasi metode, hingga interpretasi dan pengendalian mutu hasil uji. Metode LAL yang dibahas meliputi teknik gel-clot, turbidimetri, dan kromogenik sesuai standar farmakope dan regulasi yang berlaku.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan teknis pengujian endotoksin serta memahami penerapan standar regulasi, seperti Farmakope Indonesia, United States Pharmacopeia <85>, European Pharmacopeia, serta ketentuan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan ISO/IEC 17025:2017. Selain itu, pelatihan ini juga mendukung kebijakan organisasi dalam penguatan sistem mutu laboratorium dan pengembangan SDM unggul di lingkungan BPOM.
Hasil evaluasi menunjukkan seluruh peserta dinyatakan lulus uji pascapelatihan, dengan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap materi, narasumber, dan penyelenggaraan kegiatan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan hasil pengujian endotoksin di laboratorium BPOM serta mendukung perluasan ruang lingkup pengujian BPKOM pada sediaan farmasi parenteral.
Dengan terselenggaranya workshop ini, BPOM menegaskan komitmennya dalam memastikan bahwa setiap produk farmasi parenteral yang beredar di Indonesia telah melalui pengujian yang memenuhi standar mutu, sehingga aman dan berkualitas bagi masyarakat.