Era Baru Pengawasan Kosmetik dan Suplemen: BPKOM Siapkan Strategi Menghadapi Modus Ilegal yang Kian Halus

10-12-2025 Umum Dilihat 362 kali

Jakarta — Kepala Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan (BPKOM) Badan POM, Dr. Alfi Sophian, S.Si., M.Si., menjadi narasumber dalam kegiatan Penyusunan Perkiraan Intelijen Obat dan Makanan Tahun 2026 yang digelar oleh Direktorat Intelijen Obat dan Makanan pada Selasa, 9 Desember 2025. Dalam forum strategis tersebut, ia memaparkan materi bertajuk “Optimalisasi Strategi Pengujian: Solusi atas Hambatan pada Pengujian Produk Kosmetik dan Suplemen Kesehatan Ilegal yang Tidak Mengandung Bahan Berbahaya yang Dilarang.”

Dalam pemaparannya, Dr. Alfi menekankan bahwa pengawasan produk kosmetik dan suplemen ilegal kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya pelaku kejahatan kerap mencampurkan bahan berbahaya seperti merkuri, hidrokuinon, atau rhodamin B, kini modus operandi berubah semakin canggih. “Banyak produk ilegal yang sengaja diformulasikan tanpa bahan berbahaya yang umum diuji agar lolos deteksi laboratorium,” jelasnya. Pelaku justru menyisipkan bahan farmasi terselubung seperti steroid dosis mikro, retinoic acid, dan agen anabolik yang sulit terdeteksi dengan metode konvensional.

Perubahan tren ini, lanjutnya, menimbulkan tantangan besar bagi laboratorium pengujian. Profil kimia produk ilegal semakin menyerupai produk legal sehingga diperlukan pendekatan analisis yang lebih mutakhir. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan metode lama. Laboratorium harus beralih ke teknologi high-resolution screening seperti LC-HRMS, GC-HRMS, dan teknik chemical fingerprinting,” ujar Kepala BPKOM.

Dr. Alfi juga menyoroti pentingnya kolaborasi erat antara laboratorium investigasi dan Direktorat Intelijen Badan POM. Menurutnya, integrasi informasi antara data pengujian dan hasil intelijen menjadi kunci dalam mengungkap rantai distribusi produk ilegal. “Saat intelijen menemukan pola peredaran dan laboratorium mendeteksi kejanggalan kimia, di situlah kasus dapat terungkap lebih cepat dan akurat,” ungkapnya.

Di hadapan peserta kegiatan, ia turut memaparkan transformasi laboratorium investigasi yang tengah dijalankan BPKOM. Ini mencakup modernisasi instrumen, peningkatan kompetensi analis, digitalisasi sistem melalui LIMS, hingga pemanfaatan pendekatan in silico untuk prediksi senyawa dan pemetaan risiko. Tidak hanya itu, BPKOM juga mendorong penggunaan perangkat portabel seperti FTIR dan Raman untuk mendukung skrining cepat di lapangan.

Dalam konteks industri, Dr. Alfi menunjukkan bahwa tren kosmetik dan suplemen kesehatan global sedang bergerak menuju bahan-bahan alami, bio-based, dan inovasi teknologi kecantikan. Namun bersamaan dengan tren tersebut, muncul pula produk ilegal yang semakin sulit dibedakan secara kasat mata maupun komposisi kimianya. Hal ini menuntut laboratorium untuk lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika pasar.

Menutup sesinya, Dr. Alfi menegaskan bahwa optimalisasi strategi pengujian tidak hanya meningkatkan efektivitas pengawasan, tetapi juga memperkuat perlindungan masyarakat. “Kita sedang menghadapi produk ilegal generasi baru. Dengan teknologi tepat, pendekatan berbasis risiko, serta kerja sama lintas direktorat, kita dapat menghadapi tantangan ini dengan lebih sigap dan ilmiah,” tegasnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi landasan penting bagi arah intelijen dan pengawasan obat dan makanan pada tahun 2026, sekaligus memperkuat sinergi antara fungsi laboratorium, intelijen, dan penegakan hukum Badan POM.

Sarana