Identifikasi 35 Risiko, Satu Arah: Membangun BPKOM yang Lebih Siap Menghadapi Risiko

14-08-2026 Umum Dilihat 42 kali

Jakarta, Agustus 2026 - Risiko merupakan bagian dari setiap proses kerja. Tidak ada organisasi yang sepenuhnya bebas dari risiko. Pembeda yang nyata adalah bagaimana organisasi mengenali risiko, menilai dampaknya, menyiapkan pengendalian, dan memastikan tindak lanjutnya berjalan.

Bagi Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan (BPKOM), manajemen risiko menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas pengujian khusus, kasus dan pengujian rujukan di bidang Obat dan Makanan. BPKOM memiliki peran dalam mendukung investigasi, penyidikan, serta kebutuhan pengujian rujukan nasional dan internasional. Karena itu, setiap risiko yang muncul perlu dikelola secara tepat agar tidak menghambat pencapaian tujuan organisasi.

Pada Semester 2 Tahun 2026, BPKOM telah memetakan 35 risiko. Pemetaan ini memberikan gambaran mengenai jenis risiko yang dihadapi sekaligus tingkat risiko setelah mempertimbangkan pengendalian yang telah dilakukan.

 

Melihat Risiko dari Kategorinya

Dari 35 risiko yang telah dipetakan, terdapat sepuluh kategori risiko. Kategori Strategis menjadi kelompok dengan jumlah risiko terbanyak, yaitu 10 risiko. Berikutnya adalah kategori operasional sebanyak 8 risiko dan reputasi sebanyak 5 risiko. Selain itu, terdapat 3 risiko sumber daya manusia, 3 risiko keuangan, 2 risiko fraud serta masing-masing 1 risiko pada kategori IT, keselamatan Kerja, aset dan ukum.

Pengelompokan ini membantu BPKOM melihat risiko secara lebih sederhana. Risiko tidak hanya muncul dari kegiatan operasional, tetapi juga dapat berkaitan dengan pencapaian sasaran strategis, sumber daya manusia, pengelolaan anggaran, teknologi, keselamatan kerja, reputasi, aset, integritas, dan kepatuhan.

Dengan mengetahui kategori yang dominan, organisasi dapat memberikan perhatian yang lebih terarah terhadap area yang membutuhkan pengendalian.

 

Bagaimana Tingkat Risikonya?

Selain berdasarkan kategori, risiko juga perlu dilihat berdasarkan levelnya. Dengan menggunakan pengelompokan level risiko yang diterapkan dalam pemetaan Semester 2 Tahun 2026, terdapat lima kelompok:

●        Sangat Rendah: level 1–5

●        Rendah: level 6–11

●        Sedang: level 12–15

●        Tinggi: level 16–19

●        Sangat Tinggi: level 20–25

Dari 35 risiko yang dipetakan, terdapat 1 risiko pada level sangat rendah, 12 risiko pada level rendah, 20 risiko pada level sedang, 2 risiko pada level tinggi, dan tidak terdapat risiko pada level sangat tinggi.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar risiko BPKOM berada pada kategori sedang. Namun, risiko sedang bukan berarti risiko yang dapat diabaikan. Risiko tetap perlu dipantau dan dikendalikan agar tidak meningkat. Sementara itu, dua risiko pada kategori tinggi perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pelaksanaan pengendalian dan pemantauannya.

Dengan demikian, peta risiko bukan sekadar angka. Peta risiko menjadi alat untuk menentukan di mana organisasi perlu lebih waspada dan tindakan apa yang perlu dilakukan.

 

Dari Pemetaan Menjadi Tindakan

Manajemen risiko akan memberikan manfaat apabila hasil pemetaan benar-benar digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Setiap pemilik risiko perlu memahami risiko yang menjadi tanggung jawabnya, memastikan rencana pengendalian dilaksanakan, serta melakukan pemantauan terhadap perubahan level risiko.

Risiko juga perlu dikomunikasikan secara tepat waktu. Apabila terdapat perubahan kondisi, kendala dalam pengendalian atau risiko yang berpotensi meningkat, informasi tersebut perlu segera disampaikan sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.

Dalam konteks inilah pelaporan melalui SAPAAPIP secara tepat waktu menjadi bagian penting dari penguatan tata kelola. Pelaporan bukan sekadar menyelesaikan kewajiban administrasi. Pelaporan yang dilakukan tepat waktu membantu memastikan informasi mengenai pelaksanaan pengendalian dan kondisi risiko tersedia ketika dibutuhkan.

BPKOM sendiri telah mengembangkan pengelolaan SPIP dan manajemen risiko secara terintegrasi. Dalam mendukung renstra BPKOM 2025–2029, subsite SPIP dan Manajemen Risiko pada BPKOM SPACE diarahkan untuk memudahkan akses informasi, pelaporan risiko, serta pengelolaan tindak lanjut pengendalian secara terpusat dan mutakhir.

Karena itu, tepat waktu dalam melaporkan bukan hanya soal memenuhi tenggat, tetapi bagian dari budaya akuntabilitas.

 

Pesan Kepala BPKOM: Tumbuh Bersama dan Satu Persepsi

Kepala BPKOM, Dr. Alfi Sophian, S.Si., M.Si. menyampaikan pentingnya pertumbuhan organisasi secara kolektif, terutama melalui pengelolaan sumber daya manusia. Beliau juga berharap tidak ada lagi perbedaan persepsi dalam pelaksanaan tugas sehingga isu-isu strategis dapat ditangani secara lebih efektif dan terarah. Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam penerapan manajemen risiko.

Manajemen risiko tidak dapat berjalan hanya karena satu orang mengisi dokumen atau satu tim menyusun laporan. Dibutuhkan pemahaman yang sama dari seluruh pegawai mengenai risiko yang dihadapi, pengendalian yang harus dilakukan, serta pentingnya menyampaikan informasi secara tepat waktu.

“Satu persepsi menghasilkan satu arah.
Satu arah memperkuat pengendalian.
Pengendalian yang kuat menjaga kinerja organisasi”

 

Risiko Dikelola, Kinerja Dijaga

Pemetaan 35 risiko Semester 2 Tahun 2026 memberikan gambaran mengenai kondisi risiko BPKOM saat ini. Kategori strategis dan operasional menjadi kelompok yang paling banyak, sementara berdasarkan levelnya, sebagian besar risiko berada pada kategori sedang.

Data tersebut seharusnya menjadi awal dari tindakan, bukan akhir dari proses. Kedepannya, pengelolaan risiko perlu terus dilakukan melalui siklus yang sederhana: kenali risikonya, pahami dampaknya, lakukan pengendalian, pantau perkembangannya, dan laporkan tepat waktu.

Ketepatan waktu dalam pelaporan melalui SAPAAPIP menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Informasi yang lengkap dan tepat waktu akan membantu organisasi melihat kondisi secara lebih cepat dan mengambil langkah sebelum risiko berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Sebagai laboratorium pengujian khusus dan rujukan, BPKOM dituntut untuk terus menjaga profesionalisme, integritas, kredibilitas, kerja sama tim, inovasi, dan responsivitas dalam menjalankan tugas. Nilai-nilai tersebut juga menjadi bagian dari budaya organisasi BPKOM.

Pada akhirnya, manajemen risiko bukan tentang membuat organisasi bebas dari risiko.

Manajemen risiko adalah tentang membuat organisasi lebih siap, siap mengenali perubahan, siap mengambil keputusan, siap melakukan pengendalian dan siap mempertanggungjawabkan setiap proses melalui pelaporan yang akurat dan tepat waktu.

Tiga puluh lima risiko telah dipetakan. Kini saatnya memastikan setiap risiko benar-benar dikelola.

-Tim Sosialisasi Manajemen Risiko BPKOM  tahun 2026-

Sarana