Jakarta — Untuk ketiga kalinya semenjak pembentukan UPT di lingkungan Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan (BPKOM) menghadiri pertemuan internasional, Tobacco Laboratory Network (Toblabnet). Toblabnet merupakan jejaring laboratorium pengujian nikotin dan produk tembakau yang bersifat independen dari industri. Keanggotaannya terdiri dari 6 region World Health Organization (WHO) dan badan penasihat teknis WHO tentang pengujian dan penelitian tembakau, telah memainkan peran penting dalam mendukung tugas WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) pada Pasal 9 dan 10.
Hingga saat ini, Toblabnet telah menerbitkan 16 Standard Operating Procedures (SOP), termasuk SOP untuk penentuan kandungan flavouring agents dalam cairan rokok elektrik, yang diterbitkan pada bulan Juni tahun ini. WHO SOP 17 menjadi salah satu metode analisis yang sedang berproses, dengan judul Determination of flavouring agents in cigarettes using non-targeted analysis – gas chromatography mass spectrometry (GCMS). Toblabnet juga telah berkontribusi dalam mendukung Konferensi Para Pihak WHO FCTC tentang kegiatan yang berkaitan dengan pengujian. Pentingnya pengujian laboratorium digarisbawahi dalam Pasal 9 dan 10 Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau (WHO FCTC). Pasal 9 membahas pengujian dan pengukuran kandungan dan emisi produk tembakau, serta pengaturannya. Pasal 10 membahas pengungkapan informasi tentang kandungan dan emisi tersebut kepada otoritas pemerintah dan publik. Oleh karena itu, sebagai bagian dari upaya global WHO untuk lebih meningkatkan kapasitas di berbagai negara untuk mendukung implementasi Pasal-Pasal ini, Kantor Pusat WHO ingin mengundang perwakilan yang telah dinominasikan sebelumnya, serta anggota TobLabNet dari India dan Indonesia untuk memastikan keberlanjutan.
Pembahasan utama pertemuan Toblabnet yang ke-9 diantaranya SOP cemaran prioritas dalam produk tembakau, hasil studi kolaboratif yang sedang berlangsung, perencanaan studi kolaboratif meliputi gula dalam produk tembakau dan logam dalam asap rokok elektrik, dan prioritas toblabnet untuk 2 tahun kedepan. Dari pertemuan ini, Indonesia mendapat kesempatan untuk mengikuti studi kolaboratif Heated Tobacco Products (HTPs) yang berfokus pada pengujian nikotin dan senyawa aldehida. Senyawa aldehida merupakan komponen toksik yang dapat meningkatkan ketergantungan terhadap nikotin. Studi kolaboratif ini dijadwalkan pada kuartal 1-2 tahun 2026, sehingga SOP baru diharapkan dipublikasi pada akhir tahun 2026.
Dijelaskan juga hasil studi kolaboratif untuk validasi SOP flavouring agent dalam rokok secara non-targeted analysis. SOP ini dapat digunakan untuk screening senyawa flavor dalam rokok secara GCMS dengan rentang massa molekul 80-300. Terdapat 10 flavouring agents yang dipilih berdasarkan yang paling sering ditemukan pada rokok tembakau dan terdeteksi pada filter rokok. Teknik non-targeted analysis merupakan pendekatan yang sering digunakan untuk skrining penyalahgunaan obat-obatan.